Dear kamu,
Malam ini aku berteman dengan secangkir kopi. Sendirian menikmati air yang jatuh ke bumi. Dalam hilang ini seketika memori datang kembali. Wajah itu terngiang lagi..
Setiap hari aku bertemu dengan rindu. Bukankah rasa ini lucu? berharap kau ikut merajut mimpi.
Namun apa yang bisa aku perbuat? Aku terlalu takut. Kau pun tak menjawab. Logika ini menegurku. Tapi bagaimana dengan rasaku? Andai saja aku bisa menutup pintu ini.
Mungkin kau malu. Mungkin pintu ini memang tak seharusnya ku buka dari awal. Tak semestinya aku berharap kau singgah dan menempati rumah ini. Tak semestinya aku begini..
Sepertinya aku memang harus pergi. Lama waktu ku tutup pintu untukmu pun aku tak tau. Pintu lain sedang berbunyi memanggil namaku. Bukannya aku tak mau menunggu. Kau yang tak konfirmasi, kenapa harus ku tunggu? Bodohnya aku yang selalu terlambat mengerti.
Masih ku tunggu sikapmu, mohon jangan terlambat. Aku menyukaimu.